Lebih Dalam Mengenal Literasi Keagamaan

https://lklb.org/lebih-dalam-mengenal-literasi-keagamaan/

Oleh Abdul Kholiq

Sebelum mengikuti program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), saya sama sekali awam mengenai toleransi, moderasi, harmoni, dan lain-lain. Hal itu disebabkan karena saya sendiri jarang mengikuti perkembangan informasi terkait hal tersebut melalui media cetak maupun lainnya. Selain itu di lingkungan tempat tinggal masalah aman dan nyaman terlebih kehidupan sosial keagamaan warganya rukun dan damai karena penduduknya relatif sama baik dari sisi agama, ras, dan status sosial ekonomi. 

Di samping itu masyarakatnya saling menghormati satu dengan yang lain walaupun beberapa warga masih ada yang terbawa oleh tradisi Jawa lama yaitu upacara bersih desa ( bari'an ), memberi sesajen di bawah pohon yang besar ( punden ), atau sawah menjelang panen dan lain-lain. Semuanya itu tidak membuat kehidupan sehari-hari penuh gejolak dan menyalahkan orang lain dan menganggap dirinya paling benar, sebaliknya justru bisa dibarengi dengan rukun dan saling menghormati.

Ketika saya pindah ke daerah perkotaan, kehidupan sehari-hari relatif sama karena masyarakat hidup damai meskipun dalam kondisi lebih majemuk dengan perbedaan agama, keyakinan, dan suku. Di samping itu tempat ibadah juga tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu. Mereka hidup saling membantu dan bergotong royong dalam kegiatan sosial ekonomi, serta saling menghormati ketika menjalankan ajaran agama dan keyakinan masing-masing. Tidak saling mengejek dan merasa paling benar. Mereka bersama-sama menjaga keamanan lingkungan dari gangguan pihak luar atau orang yang tidak bertanggung jawab. Kehidupan yang nyaman dan menyenangkan, relatif tidak ada gejolak dan berkenalan antar warga. Jika ada pemicunya bukan masalah SARA tetapi lebih banyak karena urusan ekonomi dan lapangan kerja. 

Saya menyadari kehidupan rukun dan saling toleransi sebenarnya sudah menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Jika di lingkungan saya dengan masyarakatnya majemuk bisa hidup dalam damai, tapi sering kita lihat di layar televisi banyak peristiwa yang memicu atau mencetak antar masyarakat yang berlainan agama dan keyakinan. Bahkan di berita-berita televisi maupun surat kabar menceritakan adanya sirkulasi antar warga yang sama agamanya tetapi alirannya berbeda. Semua itu menambah pengalaman saya bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk yang seharusnya saling menghormati dan menolong, meskipun membuat saya bertanya dalam hati tentang penyebab dari semua masalah tersebut.

Ketika Covid-19 melanda Indonesia dan dunia, banyak kegiatan masyarakat yang dibatasi oleh pemerintah agar penularan penyakit ini bisa dihindari dan diredam. Masyarakat boleh mengadakan kegiatan tetapi pesertanya sangat terbatas jika tidak lebih baik berdiam diri di rumah sambil mengerjakan tugas dari kantor maupun lainnya. Beberapa lembaga pendidikan termasuk madrasah juga dibuat pusing oleh penyakit ini. Bagaimana tidak para siswa jumlahnya begitu banyak tetapi tidak dapat bertemu dan belajarnya melalui Zoom sehingga guru mempunyai banyak waktu luang. Dengan banyaknya waktu luang itulah bak gayung bersambut lembaga pendidikan tinggi atau lainnya sering mengadakan seminar, workshop , webinar, dan diklat secara berani. 

Tidak terkecuali Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan Institut Leimena Jakarta mengadakan pelatihan LKLB selama beberapa hari. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari pengajar, praktisi pendidikan, penulis, dan lain-lain sedangkan pembicaranya para ahli di bidangnya. Materi yang disampaikan bermacam-macam terutama materi tentang kompetensi privat, kompetensi komparatif, dan kompetensi kolaboratif. Dengan kompetensi pribadi akan membuat kita semakin yakin dengan agama dan keyakinan yang kita anut sehingga tidak mudah goyah dan terpengaruh oleh rayuan dan godaan yang lain. Kompetensi komparatif membuat kita bisa memahami ajaran agama dan keyakinan lain sehingga tercipta kehidupan yang saling menghormati dan terciptanya toleransi antar umat beragama selanjutnya keharmonisan kehidupan dalam masyarakat akan segera terwujud serta jauh dari peringatan dan penghormatan antar umat beragama. Sedangkan kompetensi kolaboratif menjadikan kita walaupun berbeda keyakinan dan agama namun tetap bisa bekerja sama mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, dan damai. Dimensi-dimensi dalam kehidupan beragama yang bisa dilakukan kerja sama demi terciptanya tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak berlaku pada masalah ritual karena itu masuk wilayah pribadi masing-masing.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, pemahaman kuliner saya sedikit mulai bertambah karena tidak seperti yang saya bayangkan selama ini yang terbilang sempit dan kurang wawasan. Dengan adanya kegiatan tersebut kita diajak untuk memahami bahwa kita hidup di dunia khususnya di masyarakat Indonesia yang heterogen sehingga kita tidak bisa merasa benar sendiri, menang sendiri, dan seenaknya sendiri. Bahwa yang hidup di dunia ini bukan kita saja tapi ada orang lain yang mungkin agama dan keyakinannya juga lain. Dengan begitu toleransi antar umat beragama akan terjaga dengan baik.

Kehidupan di masyarakat aman, nyaman, dan tenteram. Kegiatan workshop selanjutnya di Malang yang pelaksanaannya luring atau tatap muka dan pesertanya terbatas. Saking antusiasnya mengikuti kegiatan ini saya sempat tersesat untuk sampai di tempat kegiatan karena terburu-buru dan percaya diri sudah paham lokasi kegiatan tersebut. Kegiatan ini menambah perbendaharaan pemahaman saya mengenai LLKLB karena bisa langsung bertukar pikiran dan pendapat dengan para alumni secara langsung ditambah para pakar yang juga datang ke kegiatan tersebut. Terlebih lagi kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk terjun langsung kepada komunitas yang mana agama dan keyakinannya berbeda dengan peserta. Ternyata saudara-saudara kita mempunyai pemahaman yang sama terutama kompetensi komparatif dan kolaboratif. Dari hasil wawancara dengan narasumber mereka juga berharap adanya kehidupan beragama yang saling menghormati dan terciptanya toleransi antar umat beragama dengan baik karena semua agama mengajarkan hidup rukun dan damai.

Sebagai akhir dari tulisan ini, kegiatan LKLB yang digagas oleh Institut Leimena bersama berbagai lembaga antara lain UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Maarif Institute, patut kita dukung karena merupakan usaha bersama sebagai masyarakat yang peduli demi terciptanya kehidupan berbangsa yang harmonis, saling menghormati, dan toleransi yang tinggi jauh dari gejolak dan mengukur. Jika permasalahan agama dan keyakinan dapat menciptakan kehidupan yang harmonis maka permasalahan yang lain juga demikian.

Usaha-usaha mereka yang tidak kenal lelah dan tanpa pamrih demi terciptanya cita-cita bersama kehidupan yang rukun, damai, dan sejahtera patut kita apresiasi. Jika saja semua orang di Indonesia lebih-lebih di dunia mempunyai pemikiran yang sama dengan para komunitas ini maka tidak ada lagi yang menimbulkan dan konflik antar umat beragama sehingga masyarakat hidup berdampingan dengan rukun, damai, dan nyaman. Jika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Institut Leimena menggarap program LKLB, sedangkan Kementerian Agama memiliki program Moderasi Beragama, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga memiliki kebijakan Kurikulum Merdeka melalui Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (P2RA), maka semua berjalan secara sinergis untuk menciptakan kehidupan yang harmonis jauh dari dijamin dan konflik. Semoga tercapai cita-cita mereka. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Bersyukur kepada Allah

Menjaga Pergaulan Menurut Islam

Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik