Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda
Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda

Ilustrator: Natasa Alifah
Sabarnuddin
Fenomena pemuda dengan perilaku yang sangat frontal dan sulit untuk diarahkan pada salah satu alasan adalah kurangnya pengetahuan agama.
Agama sebagai jalan hidup pemberi rambu-rambu yang jelas menjadi suatu keharusan bagi setiap orang mempelajari serta menjalankan apa yang diyakininya. Korelasi kemuduran moral dan intelektual pemuda pada saat ini terjadi implementasi pembelajaran agama yang seolah-olah tidak diajarkan dengan disampaikan bahkan terkesan diabaikan.
Jika dirunut jumlah sekolah atau bahkan guru agama di seluruh pelosok negeri sangat banyak, tentu menjadi sebuah ironi.
Apa yang sebenarnya membuat pemuda dengan tingkat pengetahuan dan aktualisasi agama yang mundur.
Dalam praktiknya, pengajaran agama sedikit berbeda dari pengajaran yang lain yakni dibutuhkan ketekunan dan kefahaman untuk menjelaskan maksud dan tujuan sebuah ajaran agama tersebut.
Akselerasi zaman yang menjadi cambuk dalam dunia pendidikan, memacu adrenalin para guru untuk beradaptasi dengan gaya generasi muda saat ini.
Pengajaran yang hanya fokus pada pengungkapan, tetapi tidak diresapi hingga ke akarnya akan menjadi benih kesesatan dalam pengamalannya. Dengan ilmu seadanya tetapi dipahami hingga ke akar permasalahan akan lebih baik dari pengajaran dengan keseluruhan materi tetapi hanya sebatas untuk diketahui tanpa diresapi akar tujuan ajaran itu diajarkan.
Problematika yang sejak dahulu telah ada, tetapi karakter pemuda hari ini melihat kuatnya arus dari teknologi yang ia hadapi akan sangat sulit ia mencerna ajaran agama dengan berbagai kepahaman yang membutuhkan keyakinan dan kesungguhan dirinya sendiri.
Pemahaman akan mengetahui Tuhan jika hanya diajarkan sebatas untuk, maka lambat laun siswa yang punya banyak pertanyaan dalam pemahaman menemukan jawaban sendiri dengan hanya melihat realita disekitarnya.
Dengan kesimpulan Tuhan tidak ada, Tuhan tidak adil, dan lain sebagainya. Implikasi yang kompleks akan terjadi jika dasar yang ditanamkan justru benih yang tidak jelas.
Pemahaman yang tidak utuh lebih berbahaya di kemudian hari bahkan berakibat fatal.
Persebaran jiwa jumlah menurutDirektorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) dibawah Kemendagri jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2021 terdapat sebanyak 271,23 juta jiwa.
Dari jumlah jiwa tersebut terbagi menjadi 7 bagian menurut agama yang dianut, yaitu Islam 236,53 juta jiwa (86,88%), Kristen 20,4 juta (7,79%), Katholik 8,42 juta jiwa (3,09%), Hindu 4,67 juta jiwa (1,71%), Budha 2,04 juta jiwa (0,75%), Konghucu 73,02 ribu jiwa (0,03%), dan kepercayaan lain 102,51 ribu jiwa (0,04%) dengan asumsi jumlah 102,51 ribu jiwa ini mengandung atheis.
Di sisi lain, Presiden Jokowi dalam acara pembukaan ASEAN I ntercultural and I nterreligious Dialogue Conference 2024 mengungkapkan survei IPSOS Global Religion tahun 2023 terhadap 19.731 orang dari 26 negara di dunia menunjukkan 29% menyatakan bahwa mereka agnostik dan atheis.
Selain itu, menurut data Pew Research Center, 96% responden Indonesia percaya bahwa moral yang baik bertujuan untuk mempercayai Tuhan.
Dari data yang telah dipaparkan dapat dianalisis bahwa semakin hari kepercayaan akan Tuhan atau beragama semakin luntur bahkan terancam ditinggalkan hal ini seharusnya menjadi kekhawatiran bersama betapa kondisi moral yang semakin parah akibat kurangnya pengajaran agama pada generasi muda.
Tuntutan Zaman Modern
Dengan hadirnya berbagai kemudahan dan kemudahan di seluruh lingkup aktivitas manusia, seolah tanpa batas waktu dan tempat. Semua orang akan sibuk pada masalah dan akan fokus pada pekerjaanya.
Dalam problematika yang akan terjadi dengan lika-liku yang terjadi tidak jarang konsep dasar ketuhanan dan keyakinan beragama seolah-olah luntur dalam pikiran manusia.
Ia menganggap semua terjadi dengan sendirinya dan akan selesai juga dengan usahanya. Sejak awal konsep bertuhan sudah salah ia yakini, maka lahirlah benih peniadaan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan.
Berbagai permasalahan yang terjadi seolah-olah tidak ada relevansi ajaran agama dengan dunia modern saat ini. Puncaknya kesalahpahaman inilah yang akan memicu pertikaian dengan landasan yang salah bahkan pelayaran.
Sejumlah orang yang mengajarkan ajaran agama hanya ilusi atau diperuntukkan kepada orang yang ingin mendalami agama saja.
Faktanya, berbagai masalah dan realita yang terjadi saat ini bisa terjadi dan bahkan sudah diceritakan dalam ajaran agama.
Pemutarbalikkan opini bahkan pemikiran terjadi dimana-mana. Oleh karena itu, di Eropa dengan jumlah keyakinan tertinggi atheis mereka pada agama tidak lagi diperlukan.
Mereka membutuhkan uang untuk hidup tanpa memperdulikan waktu dan kesehatannya.
Tampaknya terjadi begitu cepat, tetapi apa daya zaman mengubah pola pikir yang hampir tidak masuk akal.
Pada akhirnya agama hanya akan tinggal catatan dalam buku dan kitab suci dengan para penganut yang terpacu untuk bermain di dunia bisnis dan menganggap itu yang paling penting.
Menyederhanakan Masalah Moral
Keyakinan bertuhan perkara paling mendasar dalam kehidupan seseorang.
Ajaran agama melatih pemeluknya untuk memiliki karakter dan sikap yang jelas antara yang benar dan yang salah, antara baik dan yang buruk.
Penyederhanaan perihal moral atau perilaku bukan hal yang wajar, terutama bagi orang tua dan guru di sekolah terlebih lagi para pemimpin yang mampu membuat kebijakan dalam mengatasi kebejatan moral generasi muda yang seolah-olah semakin hari semakin melonjak.
Jika ditelusuri apa yang membuat begitu rumit menarik mata rantai kemunduran moral pemuda?
Dalam keluarga yang pertama kali seharusnya ia mendapatkan kasih sayang telah hilang lalu di sekolah dengan berbagai guru yang seharusnya menasehati dan memberikan pemahaman tidak pula ia dapat.
Saat bersama lingkungan dan teman-temannya ia merasa nyaman, maka apapun yang lingkungan dan teman itu lakukan ia akan terbawa arus.
Secara garis besar peran guru dan orang tua sangat dibutuhkan dalam membentuk dan mengarahkan karakter anak.
Dalam perjalanannya, sang anak lebih nyaman dengan lingkungan ia bermain. Sebagai orang tua harus mengawasi serta mengarahkan agar anak tidak juga bersama orang-orang yang akan mengendarainya.
Jika kondisi hari ini dipertahankan dengan dalih sudah zamannya anak sekarang seperti ini, sampai kapanpun tidak ada revolusi mental bangsa. Dari generasi ini lahirlah pemimpin culas, wakil rakyat yang rakus dan pejabat aparatur negara yang tamak. Semua orang yang ingin ia miliki tidak lagi memikirkan ini salah atau benar karena sejak masalah kecil yang salah dianggap wajar oleh orang tua dan gurunya.
Pengajaran Agama Konservatif
Pembahasan pengajaran agama akan sangat panjang karena terkait dengan turunan ilmu dan cabang ilmu lainnya. Namun esensinya ialah, dunia yang semakin canggih harus pula diimbangi dengan cara belajar atau pengajaran yang inovatif serta relevan.
Pengajaran yang terkesan kurang diminati bukan salah dari siswa atau para pendengar tetapi hal tersebut tidak lagi sesuai realita zaman kini.
Pembicaraan tentang Tuhan harus dipadukan dengan awal mula adanya alam semesta hingga awal dunia hadir dengan teknologi bahkan hingga masa yang akan datang. Agama seolah-olah visioner jika digambarkan dengan kronologi yang padat jelas dan mudah dicerna.
Siswa yang belajar dengan pengajaran yang inovatif akan terlihat pemahamannya berbeda dengan siswa yang belajar dengan gaya dan materi yang seolah-olah tidak terlihat di depan mata saat ini.
Penjelasan yang kompleks akan sangat mudah dipahami jika dipadukan dengan berbagai fenomena saat ini. Sangat mudah mencari permisalan dalam menjelaskan keberadaan Tuhan dan turunannya.
Namun, jika sejak awal landasan pemikiran yang tidak utuh akan melahirkan para siswa yang kebingungan memahami konteks dunia dan ketuhanan .
---
Penulis merupakan mahasiswa sejarah Universitas Negeri Padang
Komentar
Posting Komentar